Asiawire.id, Jakarta – Iran membuka peluang untuk kembali menempuh jalur diplomasi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Namun, Teheran menegaskan perundingan dengan Amerika Serikat hanya bisa terjadi jika sejumlah syarat dipenuhi.
Sinyal tersebut disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (11/3). Dalam komunikasi itu, keduanya membahas perkembangan konflik yang meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan. Iran bahkan menuntut adanya pertanggungjawaban atas dampak yang ditimbulkan dari serangan tersebut.
Dikutip Al Jazeera, Pezeshkian menyatakan Iran masih membuka kemungkinan kembali ke meja perundingan. Namun, langkah itu hanya dapat dilakukan jika kedaulatan Iran diakui dan ada jaminan keamanan yang jelas.
Selain pengakuan kedaulatan, Teheran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang terjadi di wilayahnya akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Iran juga meminta jaminan bahwa agresi maupun serangan militer serupa tidak akan kembali terjadi di masa mendatang.
Meski membuka peluang diplomasi, Iran menegaskan sikap hati-hati terhadap pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Teheran bahkan berulang kali menyatakan masih menyimpan ketidakpercayaan terhadap Amerika Serikat.

