Asiawire.id, Jakarta – Pergerakan mata uang global bergejolak pada perdagangan Senin (2/3/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan permintaan aset lindung nilai (safe haven), mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan franc Swiss, sementara sejumlah mata uang utama lainnya mengalami tekanan.
Franc Swiss sempat menguat hingga 0,4% ke level 0,7661 per dolar AS dan melonjak 0,6% terhadap euro ke posisi 0,9030, yang menjadi level terkuat sejak 2015, sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatan. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah risiko konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Di saat yang sama, pasar energi langsung bereaksi terhadap potensi gangguan pasokan global. Harga minyak dunia melonjak sekitar 9% pada awal perdagangan Asia, terutama akibat kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz yang menjadi rute utama distribusi minyak global.
Mata Uang Eropa Tertekan, Mata Uang Asia-Pasifik Ikut Melemah
Euro tercatat melemah 0,3% ke level US$1,1784, sementara poundsterling turun dengan persentase yang sama ke US$1,3451. Tekanan terhadap mata uang Eropa dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, terutama saat kawasan tersebut memasuki periode pengisian ulang cadangan gas.
Pelaku pasar menilai Eropa berada pada posisi rentan karena ketergantungan energi impor masih tinggi di tengah kondisi persediaan yang relatif terbatas.
Yen Jepang sempat menguat pada awal perdagangan, namun berbalik melemah 0,2% ke level 156,235 per dolar AS. Pelemahan terjadi setelah pasar mempertimbangkan dampak lonjakan harga energi terhadap biaya impor Jepang serta implikasinya terhadap kebijakan moneter.
Analis Morgan Stanley MUFG memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan dalam waktu dekat semakin terbatas seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko global sempat merosot hingga 1,2% sebelum memangkas pelemahan dan diperdagangkan turun 0,3% di level US$0,7096. Dolar Selandia Baru juga melemah 0,2% menjadi US$0,5979.
Di Asia, yuan offshore China melemah tipis 0,1% ke posisi 6,868 per dolar AS setelah bank sentral China menetapkan kurs acuan harian yang lebih lemah guna menahan penguatan mata uang domestik terhadap dolar. China diketahui merupakan importir energi terbesar dunia sekaligus pembeli utama minyak Iran.
Ketidakpastian Geopolitik Tekan Pasar
Militer Israel menyatakan operasi militer masih berlanjut dengan sejumlah target strategis yang belum diselesaikan, meskipun opsi pengerahan pasukan darat belum diputuskan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebutkan bahwa kampanye militer tersebut berpotensi berlangsung hingga empat minggu, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.
Dengan lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko geopolitik global, pelaku pasar memperkirakan volatilitas pasar valuta asing masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan, terutama apabila konflik meluas dan mengganggu distribusi energi utama dunia.

