Asiawire.id, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus memantau dinamika pasar keuangan global secara ketat serta mengambil langkah responsif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah mendorong sentimen risk off di pasar global, yang berdampak pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, memastikan bank sentral tetap aktif berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.
“BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga,” kata Erwin dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari ANTARA,Senin (2/3/2026).
Sebagai bagian dari langkah stabilisasi, Bank Indonesia melakukan intervensi melalui instrumen transaksi _non-deliverable forward _(NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
Pada pembukaan perdagangan Senin pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah tercatat melemah 42 poin atau sekitar 0,25 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.787 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik militer di Timur Tengah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh perubahan preferensi investor global yang cenderung mengalihkan dana ke aset aman (safe haven).
Rupiah pada perdagangan hari ini diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS.
Eskalasi konflik bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu (28/2), termasuk wilayah Teheran. Serangan tersebut terjadi setelah perundingan terkait program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Serangan militer dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (1/3) mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kabar kematian tersebut.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta libur kerja selama sepekan. Untuk sementara, tugas kepemimpinan negara dijalankan oleh Presiden Iran bersama ketua pengadilan dan anggota Dewan Wali Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran menyatakan akan melakukan pembalasan atas kematian Sayyid Ali Khamenei, yang berpotensi memperpanjang ketegangan geopolitik kawasan.

