Asia Wire Logo
Top Securities

Konflik Iran Vs AS–Israel Diramal Bisa Tekan Sejumlah Segmen Properti RI

,
Ilustrasi Apartemen dan Hotel

Asiawire.id, Jakarta – Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dinilai dapat memicu efek lanjutan terhadap perekonomian global, termasuk sektor properti di Indonesia. Walau tidak berdampak langsung, sejumlah segmen properti diperkirakan lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi yang mungkin timbul dari konflik tersebut.

Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan, pengaruh konflik terhadap pasar properti domestik sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik ke depan. Selama konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global, dampaknya dinilai masih relatif terbatas.

"Jika konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya cenderung moderat dan temporer. Namun apabila terjadi lonjakan harga energi yang signifikan dan tekanan inflasi meningkat tajam, efek terhadap daya beli dan pembiayaan properti bisa lebih terasa," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (4/3/2026).

Menurut Ferry, beberapa jenis properti dinilai lebih rentan terhadap gejolak ekonomi yang dipicu konflik global. Salah satunya adalah apartemen kelas menengah atas yang sebagian besar dibeli oleh investor, bukan untuk kebutuhan hunian.

Properti yang memiliki karakter spekulatif juga berpotensi mengalami tekanan jika sentimen pasar melemah. Selain itu, pengembang dengan tingkat leverage tinggi atau penggunaan utang yang besar dalam pembiayaan proyek juga dapat menghadapi risiko lebih besar ketika kondisi ekonomi tidak stabil.

Sektor lain yang turut berpotensi terdampak adalah hotel yang mengandalkan kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) serta pusat perbelanjaan yang sangat bergantung pada tingkat konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis.

Di sisi lain, segmen perumahan menengah ke bawah juga memiliki kerentanan tersendiri karena sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) serta inflasi pada kebutuhan pokok.

Namun, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian dinilai relatif lebih stabil. Permintaan terhadap segmen ini biasanya berasal dari kebutuhan riil masyarakat sehingga tidak terlalu dipengaruhi oleh spekulasi pasar.

"Kawasan industri berbasis aktivitas manufaktur riil juga cenderung lebih stabil, terutama jika didukung investasi jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi kondisi permintaan global," ungkapnya.

Ferry menilai ada beberapa skenario yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Dalam skenario dasar, selama konflik tetap terbatas dan tidak memicu lonjakan harga minyak dunia, dampaknya terhadap sektor properti Indonesia diperkirakan hanya bersifat sementara.

Sebaliknya, jika konflik berkembang menjadi krisis energi global, inflasi dapat meningkat tajam dan suku bunga berpotensi bertahan pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat memperlambat aktivitas pasar properti.

Sementara dalam skenario yang lebih positif, apabila ketegangan geopolitik mereda dalam waktu dekat, sentimen pasar berpotensi pulih dan aktivitas transaksi properti kembali berjalan normal.

Bagi masyarakat yang ingin membeli rumah untuk kebutuhan tempat tinggal, langkah tersebut masih dapat dipertimbangkan selama kondisi finansial memungkinkan. Terlebih jika tersedia promo menarik atau skema bunga tetap yang kompetitif.

Untuk investor, Ferry menyarankan agar fokus pada properti di lokasi strategis atau premium dengan fundamental pasar yang kuat. Penggunaan leverage juga perlu dikelola secara hati-hati serta memastikan ketersediaan likuiditas jika terjadi perlambatan pasar.

"Properti bukan aset likuid, sehingga kemampuan bertahan dalam periode transaksi yang melambat menjadi kunci," ujarnya.